SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA

Terima kasih telah mengunjungi blog ini, bila ada sanggahan maupun saran silahkan meninggalkan komentar anda, ini hanyalah media sarana kita berkomunikasi. trima kasih.

Sabtu, 07 Juli 2012

lucu bangat




Kisah Inge: Pertaruhkan Jenggot Kang Wawan dan Prof. Nur
ANDY SYOEKRY AMAL
 
Inge
Illustrasi (foto Inge Ansu)
INI fakta, bukan gosip. Bukan pula rumor, tapi humor. Gara-gara si Inge, soalnya. Kompasianer yang mengaku sedang menuntut ilmu di United Kingkong, Kompasiana jadi heboh. Soalnya di foto profilnya, dirinya digambarkan sebagai bunga. Ya, bunga…. Tapi bukan bunga api atau bunga bank, loh…, melainkan bunga dahlia.
Apakah Inge itu sosoknya bunga dahlia? Tentu saja bukan!!! Dia adalah manusia biawak, eh, maksudnya manusia biasa. Dia bisa membaca dan menulis. Faktanya, dia bisa berkompasiana ria. Tapi kenapa dia tidak mau penampakan? Di sinilah serunya.
Dalam  “Kisah Dwiki-Inge: Korban Cinta Dunia Maya”, si Inge malah menantang kompasianer untuk menemukan dirinya melalui tebak-tebakan, sebagaimana dalam komentarnya berikut ini.

“hayo…hayoo..silakan ditebak..yang menang dapat jenggot Prof Nur…yang kalah jenggot Kang Wawan…”


Gara-gara jenggot inilah, kompasianer dari berbagai profesi bergerak. Dari Medan, seorang dukun (beranak), Ichwan Kalimasada langsung bergerak mengumpulkan data. Dia meminta bantuan suhunya, Mister Google dengan kata kunci “Inge”. Hasilnya sekitar 1,350,000 temuan gambar. Bang Ichwan bingung. Pusing tujuh keliling. Namun dari hasil penerawangannya sebagai dukun, Bang Ichwan berkeyakinan sebagaimana dalam tulisannya  “Inilah Wajah Inge Si Kekasih Tuhan” bahwa Inge yang banyak bacot di Kompasiana itu adalah Inge Ansu.
Illustrasi
Lanjut cerita, jika benar-benar gambar di atas adalah Inge beneran, maka janggut Prof Nur terancam. Tapi jika salah, yang terancam justru jenggot Kang Wawan. Potensi untuk salah 100:1… Ini berarti secara nyata jenggot Kang Wawan yang terancam.
Tak tahan ancaman, Kang Wawan kemarin langsung mengambil tindakan. Foto profilnya diganti. Sekarang, meski masih tampak berjenggot, tapi tak seberewok sebelumnya. Konon, jenggot Kang Wawan sebelum mengganti foto profilnya cukup panjang. Bisa disisir. Seperti gambar di sebelah gak, sih? Wakakakakaa…..
Kenapa Kang Wawan mengambil langkan preventif? Menurut pengakuan Kang Wawan di  “Kisah Dwiki-Inge: Korban Cinta Dunia Maya” : “ya nih pak ASA saya sempat ganti photo profil, takut janggut saya dipakai taruhan oleh mbak Inge hehehe…”
Begitulah kisah si Inge kali ini… Nantikan kisah Inge selanjutnya.

Kisah Inge: Berdebat di Tanah Lot
ANDY SYOEKRY AMAL
|  17 November 2009  |  20:06
 
8 dari 9 Kompasianer menilai Menghibur.
Beginilah keduanya berdebat. Tapi kok jadi bule, ya…, hehehe
INGE yang baru saja berkenalan dengan “MADE WIBOWO SIMATUPANG” di SINI, turun dari pesawat. Ternyata di bandara Ngurah Rai sudah ada Dwiki menunggu. Hehehe….
Keduanya cipika-cipiki. Tak lupa Dwiki memberi sekuntum bunga yang indah. Ceritanya keduanya baru jadian. Mereka berlibur ke Bali sebagai tanda peresmian. Tapi keduanya datang nggak bersamaan, lho. Dwiki sehari sebelumnya, sedangkan si Inge baru aja tiba. Kayak selebriti-lah, menghindari mata publik, ha ha haaa….
Lanjut cerita, keduanya mengunjungi tempat-tempat wisata seperti, Ubud, Danau Batur dan Tanah Lot. Setibanya di Tanah Lot, keduanya itu memperdebatkan sesuatu hal yang sepele.
Dwiki berkata, “Menurut papan penunjuk arah di depan sana, tempat ini namanya Tanah Rot.”
tanah lot
Tanah Lot
Namun Inge membantah, “Nggak, Dwi, tempat ini namanya Tanah Lot”
“Tanah Rot!” kata Dwiki.
“Nggak, Tanah Lot!” bantah Inge lagi.
“Tanah Rot!”
“Tanah Lot!”
“Ta-rot!”
“Ta-lot!”
“TR!”
“TL!”
“Rot!”
“Lot!”
“Rot! Rot! Rot!” balas Dwiki.
“Lot! Lot! Lot!” balas Inge.
“Ya, udah, daripada kita ribut, nah … tuh ada nenek-nenek yang sedang minum bir, kita tanya aja orang itu. Aku yakin dia tahu banyak akan tempat-tempat wisata di sini,” kata si Dwiki.
Lantas Dwiki bertanya kepada si nenek tua itu. Katanya, “Nek, numpang tanya, yach … tempat ini namanya Tanah Rot atau Tanah Lot? sebab menurut papan penunjuk jalan itu, tempat ini namanya Tanah Rot, sedangkan di peta katanya tempat ini bernama Tanah Lot, karena menurut saya nenek ini orang Bali, jadi saya yakin kalo nenek tahu banyak akan tempat ini. Jadi yang benar namanya apa, Nek?”
nenek
Beginilah gaya si nenek waktu Inge dan Dwiki bertanya, ha ha haaa…
“Namanya Tanah Rot”, jawab si nenek, sempoyongan sembari menenggak bir dari botolnya.
“Tanah Rot, Nek?” Kata Dwiki seolah tidak percaya.
“Ya, benar,” jawabnya lagi.
Lantas Dwiki berkata kepada Inge, “Tuh kan … aku bilang juga apa. Tanah Rot, ya, Tanah Rot!”
“Jadi bukan Tanah Lot, khan, Nek?”, katanya kepada nenek tua tersebut.
“Bukan!”
“Wah, kalo begitu terima kasih banyak ya, Nek,” kata Dwiki. “Kalo bukan karena nenek, mungkin kami di sini bisa berdebat seharian penuh mengenai hal ini. Sekali lagi terima kasih, Nek!”
Akhirnya mereka berdua akur. Dan sayapun terbangun…, ternyata tadi saya sedang bermimpi.
He he heeeee……

Kisah Inge: Bercinta dengan Jin
ANDY SYOEKRY AMAL
|
4 dari 5 Kompasianer menilai Menghibur.
illustrasi
illustrasi
PASANGAN muda suami istri Dwiki  dan Inge sedang bermain golf di sebuah lapangan yang dikelilingi oleh perumahan mewah. Rata-rata harga rumah di kawasan itu 5 milyar rupiah.  “Nge, ati-ati kalo mukul bola, jangan sampai kena kaca rumah orang. Kita bisa bangkrut kalau harus mengganti kaca rumah mewah di sekitar sini,” kata Dwiki.
Tapi malang, ayunan stick Inge yang kuat ternyata tidak terarah dengan baik dan akhirnya …praaanggg!!!!!….bola golf itu mengenai kaca rumah paling mewah di dekat situ.  Dwiki dan Inge berlari-lari ke arah rumah mewah tersebut. Mereka terkejut ketika sampai di pintu ruang tamu. Tidak hanya kaca-kaca yang berserakan, pot-pot keramik Cina dan vas bunga juga pecah.
“Aduuuh…maaf Pak, istri saya nggak sengaja,” kata Dwiki kepada seorang seorang Bapak yang mengaku bernama Kang Firman, yang tampak duduk dengan tenang.  “Nggak apa-apa,” kata Kang Firman. “Saya seharusnya berterima kasih pada anda berdua karena telah membebaskan saya dari belenggu vas bunga kuno buatan Cina itu. Saya sebenarnya adalah jin. Nah, sebagai ucapan terima kasih,saya akan meluluskan tiga permintaan. Satu untuk anda, satu untuk istri anda, dan satu lagi untuk saya sendiri,” ujar Kang Firman dengan mimik serius dan berwibawa.
“Apa permintaan anda?” tanyanya.
“Saya ingin rekening saya setiap bulan terisi 1 milyar rupiah, sepanjang hidup saya,” pinta Dwiki. “Bimsalabim…sudah terlaksana! Silakan cek rekening anda mulai bulan depan,” kata Kang Firman.
“Dan apa permintaan anda, nona cantik?” tanya Kang Firan pada Inge.
“Saya minta mobil dan perhiasan paling mewah yang ada di muka bumi,” katanya.
“Bimsalabim….sudah terlaksana juga! Bisa dilihat mulai besok pagi,” kata Kang Firman.
Dwiki dan Inge girangnya bukan main. Tidak tanggung-tanggung. Mereka berdua lupa daratan.
“Lalu, permintaan Kang Jin sendiri apa?” tanya Dwiki penasaran.
“Begono, eh begini… ehm…saya ingin bercinta sepanjang hari ini bersama istri anda,” jawab Kang Firman.
Dwiki dan Inge terkejut bukan main. Tapi karena jin itu sudah bermurah hati memberikan mereka segalanya, maka Dwiki mengijinkan Inge menemani jin tersebut.  Singkat cerita, mulai pagi itu hingga sore harinya, Inge harus melayani kebutuhan seks Kang Firman. Menjelang malam, Kang Firman mengijinkan Inge pulang. “Terima kasih, kamu hebat sekali,” katanya sambil mengedipkan mata.
“Ngomong-ngomong, berapa usia kamu dan suami kamu?”  “Saya 25 tahun, Kang,” kata Inge.  “Hah, 25 tahun? Umur 25 tahun kok masih percaya sama jin sih?” kata Kang Firman sambil termehek-mehek.
Catatan: Kisah diatas adalah fiktif, kalo nggak percaya tanya aja sama Inge, Dwiki dan Kang Firman


Jadi Monyet-monyetan di Sarang Buaya
ANDY SYOEKRY AMAL
|  20 November 2009  |  06:00
 
9 dari 11 Kompasianer menilai Menghibur.
illustrasi
Illustrasi
BEGINILAH hidup. Nyari pekerjaan susah banget. Saking susahnya,akhirnya seorang lulusan dari negeri United Kingkong, Inge, terpaksa menerima tawaran untuk bekerja di Kebun Binatang Kompasiana.
“Apa boleh buat daripada nganggur, kerja beginian juga bolehlah, yang penting halal!” begitu tekadnya.
Maka sejak hari itu Inge mulai bekerja sebagai ‘monyet monyetan’. Sepanjang hari harus betah mengenakan baju monyet, pakai topeng monyet sambil mengunyah pisang atau kacang rebus terus terusan. Dan harus jumpalitan selincah mungkin untuk menarik perhatian pengunjung. Ia berupaya membuat pengunjung termehek-mehek. Pokoknya, gayanya  tak beda banget dengan monyet asli yang kini sudah mulai langka.
illustrasi
Tak ayal lagi pengunjung Kebon Binatang Kompasiana membludak lantaran mau ngeliat si monyet super yang konon tidak hanya lincah dan gesit tetapi juga cerdas. Wong alumni United Kingkong, kok… Sayang sekali yang namanya apes itu kadang sulit dielakkan … dan eehhhh…, akhirnya bisa datang juga.
Sedang asyik-asyinya beraksi, tiba tiba: gedebuk… Byurrrrrrrrr…Wahhh…., si Inge terjatuh ke dalam kandang buaya. “Waduh, mati aku!” pikiran Inge sebelum dimangsa oleh buaya-buaya Kompasiana yang dikenal ganas itu. Tapi ketika mulut buaya terbuka lebar siap memangsa Inge,,,,,, dari dalam terdengar suara buaya yang serempak berbisik: “Sttt…jangan takut Mbak…..”
“Saya Mas Dwiki, suami kamu sayang…”
“Saya Kang Firman, koordinator buaya dari Lampung…”
“Saya Zulfikar, koordinator buaya dari Aceh…”
“Saya, Bang Ichwan, koordinator buaya dari Medan…”
“Saya Rukzzolangan , koordinator buaya dari Bandung”
“Saya Ken Arok, koordinator buaya dari Kediri…”
“Saya Kang Wawan, koordinator buaya dari Sumedang…”
Hua ha haaaa…., ternyata buaya-buaya di Kebun Binatang Kompasiana juga fiktif semua. Mereka hanya buaya-buayaan.  Menurut kabar burung,  nggak tau kabar dari mana dan burungnya siapa, yang pasti buaya-buaya yang asli dikabarkan masih sedang berkelahi melawan cicak.
illustrasi
Beginilah mimik Inge, ketakutan sewaktu hendak "dimangsa" buaya-buayaan. Foto diambil tanpa ijin dari paparazzi yang tidak dikenal melalui Mister Google.
Catatan:
- Kisah ini adalah fiktif belaka, kalo nggak percaya ikuti aja perkembangan buaya melawan cicak di tivi….
- Nama pemeran tidak fiktif, lho, perannya aja yang fiktif, sekadar hiburan doang bagi teman2 kompasianer….

Narcist
Mariska Lubis
2 dari 3 Kompasianer menilai Bermanfaat.
NARCIST banget, deh!!!
“IYA, emang saya narcist!!! So, what?! Pede aja lagi!!! Mending narcist daripada minder!!!”
Familiar dengan kata-kata di atas? Sepertinya memang dalam beberapa tahun belakangan ini istilah “narcist” menjadi sangat populer. Tapi apa semua pada tahu arti sebenarnya? Apa sejarahnya? Sebagian, sih, ngakunya belajar dari Nietche (biar kelihatan elit), tapi kayaknya banyak juga yang belom tahu, deh!!! Suka geli sendiri jadinya. Hehehe…
Adalah seorang pemuda dalam mitologi Yunani bernama Narcissus. Tampan dan sangat senang memuja dirinya sendiri. Dia dikutuk untuk jatuh cinta dengan bayangannya sendiri yang terpantul dari kolam saat dia berkaca. Tidak bisa menahan diri, akhirnya dia pun pergi dan berubah menjadi bunga. Bunga yang bernama Narcisussus. Sejumlah pakar dunia menulis dan memperkenalkan istilah narcist, narcissism, narcissistic, dan narcissist, seperti Sigmund Freud, Nitche, Mastersen, Derber, Popper, dan masih banyak lagi.
Namun yang pertama kali menggunakan istilah “narcissism” adalah Paul Nache pada tahun 1899 dalam sebuah studi yang membahas soal perbedaan persepsi. Sedangkan yang pertama kali menghubungkannya dengan dunia psikologi adalah seorang psikiatri bernama Otto Rank. Dalam buku yang diterbitkannya pada tahun 1911, dia menyebutkan ada istilah ini ada hubungannya dengan rasa percaya diri dan pemujaan terhadap diri sendiri. Narcissim sendiri, sekarang ini, selalu dihubung-hubungkan dengan rasa percaya diri dan rasa ego terhadap diri sendiri. Lebih ke arah pengkelasan diri. Merasa lebih baik, lebih pintar, lebih cantik, lebih hebat, dan mengelompokkan diri ke dalam satu kalangan tertentu.
Elite pastinya!!! Mau menang sendiri melulu!!! Ini berlaku untuk diri sendiri maupun sekelompok orang tertentu. Dah banyaklah, ya, contohnya!!! Setiap orang pada dasarnya memang narcist. Narcist yang sehat, lho!!! Ini juga kata si Freud. Adanya hal ini disebabkan sebagai refleksi atau reaksi alami seorang manusia untuk menjaga dirinya dari rasa sakit. Cinta terhadap diri sendiri yang kuat, membuat seseorang kuat menghadapi orang lain. Walaupun ada cinta yang harus diberikan kepada yang lain, tetapi cinta itu tidak seharusnya membuat orang menjadi sakit, kan? Kalau rasa narcist-nya berlebihan, alias ketinggian, ini bisa disebut tidak sehat. Punya masalah dengan kepribadian.
Terlalu berlebihan menilai diri sendiri dan selalu membutuhkan yang namanya pujian dan pujaan. Bagaimana dengan orang tua yang seringkali memuja-muja dan mengagung-agungkan anaknya? Apa ini bisa disebut narcist???
Hehehe. Katanya, nggak, tuh!!! Ini adalah sebagai ungkapan rasa sayang orang tua terhadap anaknya saja. Justru orang tua yang mengabaikan anaknya dan merasa lebih hebat terus dari anaknyalah yang patut dipertanyakan ke-narcist-annya. Menurut seorang pakar psikologi, Hotchkiss, ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan seseorang menjadi sangat narcist. Yaitu rasa malu yang berlebihan, berkhayal kelewat jauh, arogan yang tinggi alias terlalu gengsian, penolakan terhadap keadaan diri yang sebenarnya, merasa bahwa dirinya sangat spesial dan sangat berharga, terlalu dieksploitasi, dan tidak bisa memiliki batasan yang jelas antara dirinya dan orang lain. Banyak juga, ya, penyebabnya!!! Jadi takut, nih!!! Pembagian atau klasifikasi dari orang-orang yang narcist berbeda-beda. Ada yang membedakannya berdasarkan rasa empati dan simpati terhadap orang lain, ada juga yang membedakannya berdasarkan perilaku sosialnya di dalam masyarakat. Tapi semuanya sama saja menurut saya, intinya sama-sama tidak bisa bersosialisasi dengan orang lain dengan cara yang baik dan benar. Di mana-mana banyak musuhnya!!!!
Beda lagi dengan cross-cultural narcissim. Menurut psikoanalis Joan Lachkar, yang menyebut ini sebagai sebuah fenomena, adalah rasa kebanggaan terhadap bangsa dan negaranya yang menunjukkan rasa nasionalisme dan menunjukkan rasa kebanggaan atas jadi dirinya. Kalau yang satu ini, rasanya kita perlu banget, ya?! Kekurangan sekali, deh!!! Sekarang kurang lebih sudah lebih tahulah ya soal narcist ini!!! Jadi, nggak perlu ada lagi perdebatan soal yang ini narcist yang ini bukan atau narcist itu penting atau tidak. Pastinya, semua hal selalu ada baiknya dan ada juga buruknya. Marilah kita sama-sama melihatnya dari berbagai sisi pandang yang berbeda agar kita menjadi manusia yang lebih dewasa, pintar, dan bijaksana. Amin.
 
 
 
Kisah Inge: ASA, Malaikat Firman, dan Sepak bola
Inge
6 dari 6 Kompasianer menilai Menghibur.
Anfield, Hillsborough Memorial 2009
Anfield, Hillsborough Memorial 2009
Yang ringan yang lucu diakhir pekan..
oOoOoOoOoOo
Alkisah Bung ASA seorang penggemar maniak sepakbola. Saking tergila-gilanya dengan sepak bola maka suatu waktu dia berdoa begini: “Ya Tuhan, tolong beritahu saya apakah diatas sana ada pertandingan sepakbola yang bisa saya tonton setiap hari dan apakah juga pemain-pemainnya jago-jago seperti yang ada sekarang ini?”
Mendengar doa ASA ini, Tuhan mengirimkan malaikat Firman untuk menjawab doa ASA.
Maka berkatalah malaikat Firman kepada ASA:
“Hei bung ASA, Tuhan sudah mendengar doamu dan saya diutus untuk memberikan kabar itu kepada kamu. Nah, ada dua kabar tentang itu, satu kabar baik dan satu kabar buruk. Yang manakah dari keduanya yang ingin kau dengar terlebih dahulu?” tanya sang malaikat Firman.
“Kabar baik dulu,” jawab bung ASA.
“Baiklah. Kabar baik dari doamu adalah bahwa di surga sana kamu bisa menonton setiap hari pertandingan sepak bola Liga Surga…” jawab malaikat Firman.
“Oh terimakasih malaikat Firman! Lalu kabar burukya apa?” tanya bung ASA harap-harap cemas.
“Kabar buruknya adalah besok kamu akan turut bermain dalam liga tersebut,” jawab malaikat Firman kalem.
“What?!” tanya bung ASA terperanjat…gubrak!!!!
oOoOoOoOoOo
Pesan: jangan suka usil tanya-tanya Tuhan…
 
 
Nama yang Susah Dibedakan Jenis Kelaminnya
Masim Vavai Sugianto
Tadi sore ada pengajuan account email baru yang mampir ke department IT. Nama untuk account email adalah ida, jadi nantinya menjadi ida@namaperusahaan.co.id.
“Ida yang mana nih ? Anak Accounting yang baru masuk bukan ?”, tanya saya sambil memperhatikan staff technical support yang membuat account baru pada mail server Zimbra.
“Bukan pak. Ini yang akan ditempatkan di department baru…”, jawabnya.
“Cowok atau cewek ?”, tanya saya heran karena setahu saya karyawan wanita yang baru masuk ada di Accounting, sedangkan di bagian lain, semua yang masuk berjenis kelamin laki-laki.
“Bukan pak, cowok…”
Saya heran juga nama Ida dipakai untuk cowok. Usut punya usut ternyata ada alasan tertentu penggunaan nama itu, yaitu karena orang tuanya sudah lama kepingin anak perempuan sehingga ketika anak laki-lakinya lahir diberi nama itu.
Saya jadi ingat salah satu artikel lawas saya, “Nama yang Susyah Dibedakan Jenis Kelaminnya”.
Selain nama Ida, ada banyak nama-nama khas Indonesia, bahkan nama yang dikenal banyak orang yang tidak bisa langsung ditebak jenis kelaminnya.
Contoh paling menarik adalah nama pahlawan, HR Rasuna Said, yang diabadikan kedalam salah satu ruas jalan di Jakarta (kantor KPK ada di jalan HR Rasuna Said)
Saya pernah baca tebakan serius seperti ini :
Di Jakarta ada Jl. HR. Rasuna Said (Salah seorang Pahlawan Nasional). Nah, HR Rasuna Said itu Laki-laki atau wanita ? Siapa yang tahu hayooo..
Dengan tidak mengurangi rasa hormat pada HR Rasuna Said
Banyak nama di Indonesia yang kadang silang-silangan sehingga saya mesti hati-hati kalau panggil seseorang hanya berdasarkan perkiraan jenis kelamin. Nanti di panggil “Mas” ternyata malah “Mbak” dan sebaliknya :-).
Waktu SMP (SMPN 1 Tambun - Bekasi), saya punya teman dengan nama Nunung. Ada Nunung Nuraida, ini cewek dan Nunung (saja) dan ini cowok. Sumpeh, bukan Nanang tapi Nunung.
Sekarang kalau saya tanya, “Kalau nama ‘Ade’ jenis kelaminnya apa ?” pasti banyak yang bilang, “Ade apa dulu ? nama lengkapnya apa ?”
Kalau Ade Rahmat Hidayat, oh itu cowok. Tapi Kalau Ade Devie Fairlana atau Ade Sri Herlina (sapa niy :-D.) itu pasti cewek.
Ada lagi nama lain yang juga mesti diketahui nama belakangnya agar bisa dibedakan, misalnya Nurul. Ada Nurul Wibawa Cahya sahabat blogger saya, ada juga Rini Nurul Badariah, salah satu penulis handal yang tulisannya enak dibaca. Kemudian Devie, Fitri, Endang, Nana, Sri (saya punya dosen namanya Sri Setyo dan teman namanya Sri Sapto sedangkan nama Sri yang cewek juga banyak).
Ada nama lain yang susah dibedakan jenis kelaminnya ?
 
 
TTM, Tua Tapi Mesra
Ichwan Kalimasada
 
2 dari 2 Kompasianer menilai Menghibur.
ilustrasi
ilustrasi
Sepasang kakek-nenek datang ke restoran Mc Donald dengan saling menuntun. Mereka duduk di sebuah bangku panjang berdua, di sampingku.
Si kakek segera berdiri dan memesan makanan, sebuah hamburger, seporsi kentang goreng dan
segelas minuman. Setelah itu kembali duduk, membagi hamburger jadi 2 bagian, menghitung kentang goreng dengan cermat dan membagi adil dengan si nenek, kemudian mengambil dua sedotan, menaruh gelas minuman tepat di tengah meja.
Aku memperhatikan tingkah sepasang kakek-nenek itu dengan salut dan kagum, pikirku…”Wah sudah tua-tua begitu masih bisa saling berbagi dan mengasihi….sungguh patut dijadikan contoh…”
Si kakek kemudian mulai makan bagiannya, sementara si nenek hanya memperhatikan. Akupun merasa kasian, akhirnya mendekat sembari menyodorkan kentangku yang Super Size dan berkata:
“Kek ambillah ini…”
Si Kakek jawab: “Tidak usah terima kasih..kami selalu berbagi makanan yang sama”.
Sampai si kakek selesai makan, mengelap mulut dengan tissue, si nenek masih saja menunggu tanpa menyentuh makanan bagiannya.
Akupun mendekat lagi, kali ini berkata: “Nek, boleh saya belikan makanan yang lain, mungkin nenek tidak suka yang ini?”
Si Nenek jawab: “Tidak terimakasih..”
Lalu Aku bertanya lagi, “Kalau begitu kenapa makanannya tidak dimakan, katanya kalian suka berbagi?”
Kata si Nenek, “Saya sedang menunggu gigi…gantian sama kakek!!”
 
 
NeLi
Inge
Sekedar yang ringan dan yang lucu di akhir pekan anda bersama orang2x tercinta….
oOoOoOoOo
Pada suatu malam petugas Kamtib melakukan razia PSK dan waria di Taman Lawang. Jumlah PSK dan waria yang terjaring berkisar 50 orang. Maka disuruhlah para PSK dan waria itu untuk berbaris oleh petugas Kamtib. Mereka dimintai data satu persatu. Sementara para petugas Kamtib sibuk mendata mereka, dikejauhan tampak seorang nenek yang sedang sibuk mengais sampah untuk mencari makan karena seharian belum makan. Ketika sang nenek melihat barisan para PSK dan waria, maka timbul rasa penasaran dalam hatinya dan memutuskan untuk mendekati barisan panjang tersebut. Didekatinya salah satu waria yang berada dibarisan paling belakang:
Nenek: “Cu, ada apa nih? Koq pada berbaris semua? Ada apakah gerangan?”
Waria: “Ooohh…ini nek….bapak2x petugas disana itu lagi bagi2x permen.” (waria usil)
Nenek: “Oooo….lagi bagi2x permen ya, cu? Wah, kebetulan nenek belum makan seharian, boleh dong nenek ikutan berbaris?”
Waria: “Ooohhh…boleh2x aja, nek. Silakan ikutan baris disini.”
Dengan senangnya sang nenek ikutan berbaris bersama para PSK dan waria itu walaupun sang nenek tak tahu kalau itu adalah razia PSK dan waria. Ketika tiba giliran nenek didepan petugas Kamtib yang sedang mendata, maka dengan wajah penuh heran, penasaran, sekaligus takjub, sang petugas bertanya kepada nenek tersebut:
Petugas Kamtib: “Lho, nenek masih bisa juga?” tanya petugas penuh selidik.
Nenek: “Wah cu, kalau soal isap2x dan ngemut sih, nenek masih bisa atuh…”
Petugas: “Apa?!?!?!”….(gubrak!!!)
 
 
Gerutu Setan
 
Ichwan Kalimasada
 
Ilustrasi Sang Setan
Ilustrasi Sang Setan
Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu meminum minuman keras karena itu adalah miuman setan dan jika kau terus meminumnya nanti SETANNYA MINUM APAAN?
“enak aja, dia yang mabok koq malah aku yang disalain..” Lucu juga manusia ini kalau marah malah nyebut-nyebut setan, emang aku apaan, nyebut kek, eling gicu lho……
Di setiap ruang gelap, kadang manusia takut, katanya ada aku, setan, emangnya mereka tau kalau aku suka ditempat gelap, padahal manusia aja suka gelap mata, lalu aku lagi disalain, apa mereka juga kagak tau kalau aku juga benci gelap karena sering mati lampu, PLN yang berbuat malah aku disamakan PLN, dasar setan katanya.
Ada sepasang cowok dan cewek berdua-duaan, lagi pacaran nii yeeee, di dalam kamar lagi, saking asiknya maen kitik-kitik jadilah manusia cewek berbadan dua, nah apa katanya, makanya kalau berdua-duaan hati-hati karena yang ketiganya setan, dasar manusia suka cari kambing hitam, emangnya aku suka nonton gituan, dasar nafsu birahinya aja kagak bisa ditahan.
Ada manusia yang tanya kenapa aku tidak suka ke tempat lokalisasi dan diskotik, emang aku setan apaan, emang aku manusia, toh mereka juga uda jadi setan koq, ngapain pula aku perlu nengok-nengok itu, dasar manusia banyak sangkaan mulu.
Banyak pejabat jadi pesakitan di pengadilan karena korupsi, dia menangis menyesali sikapnya, katanya tergoda setan, dasar pejabat kagak mau salah, emang aku doyan duit, buat apa, manusia aja yang gila harta, tahta dan wanita.
Banyak manusia menghinaku setan, padahal setan berwujud manusia lebih bahayyyyaaaa.
Jika suatu bangsa di mana pejabatnya dan penguasa semau-maunya, katanya aku sumber petaka, sebagai penggoda, padahal aku juga sudah minggat tidak tahan juga tinggal bersama mereka, ya kenapa, lha wong…mereka uda pada setan semua koq, ha..ha..ha….
Jangan ganggu aku karena aku tak mengusikmu, hai para manusia, sungguh kalianlah sesame manusia suka saling ganggu karena nafsu kuasamu sangat besar, aku, setan, hanya imajinasi pelampiasan kesalahanmu sendiri yang tidak kau mau akui. Sungguh manusia lebih bahaya dari setan. Ha…ha..ha…ha….ha…ha….ha…
 
 
 
Yang Lutu Tapi Jangan Parno
Ichwan Kalimasada
 
Bibir Sexy
Minuman Setan
Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu meminum minuman keras karena itu adalah miuman setan dan jika kau terus meminumnya nanti SETANNYA MINUM APAAN?
Sumpah dokter
Ngga tahan beban emosional, sahabat Rendi yang DOKTER itu curhat: “Ren, bagaimana ya menghilangkan kebiasaan selingkuh dengan para pasienku? Aku telah langgar sumpah dokterku!” Rendi coba menghibur: ” Sudahlah. Normal pria selingkuh dengan wanita. Apalagi kau belum menikah.” DOKTER makin murung: ” Tapi Ren, aku ini kan dokter hewan?”
Buku porno
Willy liburan di rumah kakek yang senang ngeliat cucunya menginap. Tapi betapa kaget kakek ketika menemukan buku bergambar porno di bawah bantal Willy. Waktu buka halaman 1 kakek teriak: “YA AMPUNNNN!!!!!”. Kakek terus membuka dan semakin kaget: “Astaga!!!” Sampai halaman terakhir: “Yah HABISSSS!!”
Kebanyakan
Andi tampak lesu setelah kencan dengan Mila. Temannya tanya: “Kenapa ndi?”. Andi jawab: “Aku semalam ML dengan Mila. Cuma lupa kebiasaan ‘JAJAN’, setelah selesai Mila kukasih uang 2 Juta.!” Temanya kaget: ” HAH! Marah dong Mila!” Andi makin lesu: “Itu lah.. dia ngga marah koq. Tapi malah ngembaliin 250ribu, katanya kebanyakan..”
Alim
Cindy punya pacar EDO yang taat agama.
Akibatnya Cindy gerah juga. Maka Cindy cari akal: “Kata kamu “burung”mu itu simbol setan ya?” EDO mengangguk dengan serius. Cindy tanya lagi: ” kau juga bilang ‘punya’ku ini lambang neraka bukan?”. EDO jawab serius :”Benar, makanya aku harus menjauhinya..!”. Cindy bantah: ” Kalo gitu kamu nanti akan dimarahi-Nya loh!!??” EDO kaget : “Kenapa?” Cindy jawab dengan senang :” Ya jelas dimarahi, karena tidak cepat2 memasukkan ‘SETAN’ ke dalam ‘NERAKA’!!”
Cewek Mars
Ini kisah astronaut yg sedang dalam misinya ke Mars. Setelah mendarat dia bertemu dengan wanita Mars yg cantik jelita sedang mengaduk periuk……
Astronaut : Kamu sedang apa?
Wanita : Membuat bayi.
Astronaut : Oh kalau di bumi cara membuat bayi bukan begitu…
Wanita : Lalu, caranya bagaimana?
Astronaut : hmmm … Susah menjelaskannya, tapi sangat mudah mempraktekkannya.
Wanita Mars itu setuju mempraktekkannya. Setelah si astronaut selesai “mempraktekan cara membuat anak versi bumi”, wanita Mars itu bertanya…
Wanita : Lho? Mana bayinya??
Astronaut : Bayi itu baru akan jadi 9 bulan lagi..
Wanita : kalau begitu … kenapa kamu berhenti mengaduk?
 
 
 
Penangkaran Buaya Terbesar di Dunia Ada di Kota Medan
Ichwan Kalimasada
Anda ingin melihat buaya hidup sebanyak 2.800 ekor, datanglah ke lokasi penangkaran buaya milik Lo Than Muk, 80, di Asam Kumbang, Kecamatan Medan Selayang di Jalan Bunga Raya II Kota Medan, Sumatera Utara. Tidak hanya dilihat dari jumlahnya yang cukup banyak, di penangkaran itu terdapat buaya yang usianya 32 sampai 50 tahun.
Areal penangkaran ini seluas satu hektar lebih, oleh pemiliknya di dalam areal ini telah dibangun 78 bak penangkaran buaya dan setengah hektar tanah dibuat semacam danau tempat leluasa hidup di air dan naik ke darat yang belakang danau telah dipagari tembok panjang dengan tinggi sekitar 3 meter sebagai pembatas dengan areal perkampungan penduduk yang berada di sekitarnya. Agar terlihat oleh pengunjung danau ini diberi pagar besi jaring-jaring pengaman. Menurut pengakuan para turis yang telah datang berkunjung, ini adalah penangkaran buaya terbesar di dunia yang dikelola secara tradisionil, untuk menikmatinya biaya masuk hanya Rp 5000 bagi orang dewasa dan Rp 3000 bagi anak-anak.

Sebagai obyek wisata yang telah diakui oleh Pemko Medan, penangkaran ini nampak sangat bersahaja, penangkaran dikelola di dalam rumah penduduk biasa, cukup sederhana sebagaimana sederhananya rumah tangga Lo Than Muk bersama isterinya Lim Hiu Cu dengan dua anaknya Robert Lo (30) dan Robin (28).

Populasi yang besar membuat pemilik menjadi prihatin di dalam menyediakan pakan bagi buaya-buaya ini yang membutuhkan satu ton daging segar setiap hari sementara sumber pembiayaan hanya mengandalkan harga tiket masuk dari para pengunjung termasuk biaya pawang, pemeliharaan dan perawatan. Setidaknya dibutuhkan dana 1 juta perhari untuk biaya pakan, itu pun tidak semua buaya mendapatkan mangsa pakan setiap harinya yang berasal dari ternak yang mati umumnya ayam dan bebek. Bagi penduduk Kota Medan yang memiliki ternak lembu, kerbau, babi dan kambing yang mati biasanya di bawa ke tempat penangkaran ini.
Buaya Tanpa Ekor
Buaya Tanpa Ekor
Untuk mengurangi populasi pada tahun 2008 sebanyak 100 ekor buaya telah dikirim ke Banten dan telur-telur buaya oleh pemiliknya tidak ditetaskan lagi tetapi di konsumsi sendiri sebagai lauk makanan sehari-hari. Banyak peminat buaya yang datang untuk membeli buaya, tetapi pemiliknya tidak menjualnya karena binatang ini hanya untuk dipelihara dan dilarang oleh pemerintah untuk diperjualbelikan. Namun disayangkan selama ini bantuan pemerintah masih minim untuk membantu pemeliharaan dan pelestarian buaya.

Lo Than Muk tidak menyangka sama sekali, penangkaran buayanya berkembang menjadi 2.800 ekor. Awalnya dia hanya iseng memelihara buaya kecil 12 ekor yang didapat dari sungai-sungai yang ada di Kota Medan. Dari situ kemudian buayanya terus berkembang biak dan akhirnya dia buka penangkaran 1959 dan sempat tenar sebelum tahun 1998 sebagai objek wisata andalan Kota Medan. Lo Than Muk lahir di Aceh Timur pada 11 Maret 1928 telah lama tiada meninggalkan warisan buaya berikut areal penangkarannya, kini ke dua orang anaknya melanjutkan usaha pelestarian buaya-buaya ini.
Buaya Putih
Buaya Putih
Pada hari-hari biasa tempat ini sepi dari pengunjung, pada hari libur terutama libur hari-hari raya besar tempat ini masih ramai dikungjungi yang ingin melihat ekowisata buaya. Pengunjung dapat menikmati suasana pemberian makan buaya yang dilakukan satu kali dalam sehari pada pukul 17.00 WIB.
Buaya berusia 50 tahun
Buaya berusia 50 tahun
Selain itu, dengan biaya 30 ribu rupiah untuk membeli pakan yang telah disiapkan oleh pemilik anda bisa memberi makan sendiri ke buaya-buaya ini. Hiburan lain di tempat ini, seorang pawang bernama Supriyadi akan melakukan atraksi buaya bersama seekor babon (kera) dengan membayar 50 ribu rupiah dan anda pun bisa berfoto bersama dengan buaya dengan duduk diatasnya.

Jika anda ke Kota Medan sungguh sayang jika tidak datang mengunjungi tempat ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar